Aqiqah dan tasmiyah merupakan dua jenis beribadah yang sudah dilakukan pada hari yang serupa yaitu hari ke-7 kelahiran anak. Ini didasari alasan berikut,

“Yang palinglah utama menyembelih aqiqah di hari ke-7 kelahiran. Hari kelahiran masuk ke perhitungan. Sunnah menggunting rambut sesudah menyembelih aqiqah seperti dalam beribadah hajiTasmiyah dilaksanakan di hari ke-7 . Sunnah bersedekah emas seberat rambut yang dipotong.”

Walau demikian, ke-2 nya mempunyai beberapa ketidaksamaan fundamental diantaranya seperti berikut.

1. Berdasar Penjelasan

Aqiqah menurut Islam ialah menyembelih kambing atau domba sebagai wujud pertanda sukur ke Allah subhanahu wa ta’ala atas lahirnya anak yang dikerjakan di hari ke-7 sesudah kelahiran anak.

Adapun yang diartikan dengan tasmiyah dalam masalah ini mengarah pada memberikan nama ke anak yang baru lahir. Arti tasmiyah yang lain ialah ucapkan kata Bismillah saat menyembelih hewan.

Salah satunya alasan disunnahkannya aqiqah ialah hadits ini.

2. Berdasarkan Dalil

Salah satu dalil disunnahkannya aqiqah adalah hadits berikut.

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, ia berbicara, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aqiqah dikerjakan karena kelahiran bayi, karena itu sembelihlah hewan dan lenyapkanlah semua masalah darinya.”
HR. Bukhari

Adapun alasan tasmiyah atau memberikan nama bayi ialah seperti berikut.

Dari Samurah bin Jundub jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih di hari ke-7 , dicukur rambut kepalanya, dan dinamakan.”
HR. Ibnu Majah dan Abu Daud

3. Menurut Waktu

Menurut opini beberapa ulama, waktu pemotongan aqiqah yang paling penting ialah di hari ke-7 dari kelahiran anak.

Dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan buatnya di hari ke-7 , digundul rambutnya dan dinamakan.”

HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menjelaskan jika hadits ini shahih
Ada pula opini yang mengatakan jika jika ada uzur hingga aqiqah tidak bisa dikerjakan di hari ke-7 karena itu aqiqah bisa dilaksanakan pada hari ke-4 belas atau dua puluh satu. Ini didasari atas hadits ini.

“Aqiqah disembelih di hari ke-7 , ke-4 belas, dan ke-2 puluh satu.”
HR. At-Tirmidzi
Tetapi, opini dan hadits di atas sebagai landasannya masih jadi pembicaraan beberapa ulama sampai ini hari.

Adapun pemberian nama anak atau tasmiyah bisa dilaksanakan di hari awal bayi lahir (diperbolehkan) atau pada hari ke-7 (disunnahkan).

Hadits yang mengatakan waktu penamaan dilaksanakan semenjak hari awal ialah seperti berikut.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berbicara, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di suatu malam, saya dianugerahkan seorang bayi dan saya namai dia bernama ayahku, yaitu Ibrahim.”
HR.Muslim

Adapun hadits yang mengatakan waktu penamaan bayi dilaksanakan di hari ke-7 ialah seperti berikut.

Dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan buatnya di hari ke-7 , digundul rambutnya dan dinamakan.”

HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani menjelaskan jika hadits ini shahih
Wallahu a’lam.