Aku terbangun menggigil. Di antara pikuk deru mesin diesel bahtera. Riuh nada teman-teman di ambang batas seru dan ngeri. Sensasi berlayar yang memacu adrenalin. T-Shirt, celana panjang, jilbab dan sedalam-dalamnya baju yang kukenakan masih basah kuyup semenjak selepas turun ke bahari bermain snorkling sebelumnya. Niat tidur memapar diri berjemur di bawah terik matahari di atas geladak, namun ombak bahari begitu tidak cukup bersahabat. Tiap-tiap kali haluan memecah ombak, semburan air bahari bertubi menerpa semua penumpang, rata berasal dari depan sampai ke belakang. Otomatis acara berjemur di atas bahtera pun gagal keseluruhan. Kucoba memanfaatkan residu bagian terpal yang membungkus property kita untuk menyelimuti semua tubuh berasal dari hempasan air, lalu tertidur lelap di bawah ‘Kerukupan’ terpal sembari diayun ombak. Sampai entah jarak berapa menit ke depan, terbangun di dalam keadaan kedinginan.
Kusibak terpal, hijabku berasal dari udara luar, memicingkan mata gara-gara terik matahari menembus pupil yang otomatis berproses akomodasi. Tetapi terus saja, perjalanan mengarung Bahari/ Selat Bali masih terasa bergoncang hebat, padahal kita cuman berlayar di pesisir saja, bersama dengan radius daratan di sisi kanan tak hingga 1 km.
Tim kita bersepuluh, aku, Iqbal selaku komandan tim, lalu tersedia Ardani, Da, Ana, Diba, Diana, Mega, Dodo dan Maria. Kita sepakat melengkapi kunjungan di Baluran National Park bersama dengan mengarungi pesisir bahari di sisi Timurnya, berasal dari arah Pantai Pandean sampai hingga di Bilik Sijile, suatu spot pantai yang belum benar-benar berlimpah dikunjungi, syahdan daerah ini dinamakan demikian gara-gara menyerupai bentuk lidah. Berasal dari Bilik Sijile, sebatas aku dan Ardani yang mencicipi underwaternya bersama dengan bersnorkling, selagi teman-teman yang lain sepertinya udah tidak cukup berminat gara-gara jemu bersama perjalanan tiga jam pengarungan bahari. Sedikit berjalan tidak benar komunikasi ketika ABK terlanjur memutuskan bahtera untuk bertolak lagi menuju Pandean sehabis snorkling, padahal tim kita idamkan sejenak menyentuh pasir putih Bilik Sijile sembari beristirahat melepas penat di atas bahtera. Kita pun pasrah, udah kepalang jauh untuk lagi.

Kemudian, Bapak Munib selaku nahkoda, mengusulkan merapatkan bahtera di Labuhan Merak, keliru satu titik yang dinilai layak untuk persinggahan adanya peradaban; lebih dari satu bangunan tempat tinggal bersama pekarangan kandang ternak. Berharap mampu semata-mata membeli nasi bungkus atau jajan pasar untuk pengganjal lapar. Celoteh dan tawa riang sebagian anak pantai riang menyambut bahtera ketika jangkar ditambatkan untuk menikmati wisata rafting keluarga. Teman-Teman bersemangat menyapa bocah malu-malu ini, mencoba menemukan kejujuran berkenaan akses pendidikan yang sepertinya masih terlalu jauh berasal dari jangkauan mereka. Mereka mengaku sekolah, tapi sepertinya sebatas jawaban antusiasme saja, lebih-lebih sesudah mesinkronkan berita berasal dari Pak Munip bahwa Labuhan Merak hanyalah dihuni oleh sebagian kepala keluarga. Jangankan bersekolah, mengunjungi kota Situbondo, peradaban terdekatnya pun aku berani bertaruh, anak-anak ini belum dulu menginjakkan kakinya di sana. Terenyuh sekali rasanya, menjumpai fenomena ketidakmerataan dan keterbatasan akses yang masih jadi permasalahan klise negeri ini. Pas keadaan ini konkret tereksisting di pesisir Pulau Jawa. Kita pun mengurungkan niat sebelumnya melacak warung, hanyalah mengeluarkan sebagian makanan kecil untuk pengganjal perut dan sebatas berbagi bersama dengan anak-anak pantai, sampai jangkar pun lagi diangkat, bahtera melaju membelah ombak, semakin hebat berguncang.
“Udah berapa th usia bahtera ini, Pak?” Iqbal iseng bertanya sehabis sebagian kali lihat aktivitas anak buah kapal yang menguras bagian bawah dek bahtera sebagian kali secara berkala.
“Empat belas tahunan.” Jawab Bapak Munip. Aku tertegun dan berpandang-pandangan bersama Iqbal, mencoba menemukan keyakinan terhadap sorot matanya bahwa bahtera ini lumayan kondusif membawa kita berlayar, sepuluh orang berasal dari kita ditambah tiga anak buah kapal.
“Kami turun di Bama aja ya, Mbak, sebentar ulang hingga.” Iqbal mencoba memberi penawaran kepadaku sesudah satu jam lebih pengarungan bahari yang semakin bukan menentu.
“Pantai Pandean masih mesti ditempuh tidak cukup lebih 1,5 jam berasal dari Bama” Lanjutnya. “Berasal dari Bama, kami minta jemput pick up patroli hutan aja nanti.” Ah kurasa, mengambil resiko membayar lebih untuk sewa pick up jauh lebih safety ketimbang terombang-ambing di atas keganasan ombak. Aku hanyalah mengangguk mengiyakan. Bukan bertanya lebih lanjut gara-gara udah sadar bersama resiko yang bisa saja lebih berbahaya apabila kita terus mencoba mengakhiri pelayaran sampai Pandean. Sebagai seorang yang di-komandan-kan, bagaimana dia merasa menolong tanggung jawab besar membawa kita.